Jumat, 20 Maret 2009

SOCIAL ENGINEERING

Oleh Prof. Achmad Ali

Sumber: Harian Fajar

Suatu pandangan yang dipopulerkan sekalipun oleh pakar terkemuka, tetap harus kita kritisi dan senantiasa melakukan rekonstruksi jika pandangan tersebut keliru atau sengaja dikelirukan. Salah satu contoh istilah “law as atool of social engineering” oleh grup Harvard Law School, elalu dinisbatkan sebagai istilah yang digunakan tokoh ilmuan terkemuka, mantan Dekan Harvard Law School, Professor Roscoe Pound, dengan merujuk pada buku karya monumental Roscoe Pound yang berjudul : Jurisprudence, volume 1, edisi 1959 :350-358 untuk penamaan delapan butir konsep Mazhab Sosiologis Hukumnya Roscoe Pound. Contohnya, C.M. Campbell & Paul Wiles (dalam : Law and Society).

Setelah itu istilah “Social Engineering” pertama kalinya di tahun 1970-an, diperkenalkan di Indonesia oleh alumni Harvard Law School, Prof. Dr. Mochtar Kusumatmadja, yang dalam kariernya menjabat sebagai jabatan polotik di era orde baru di bawah pimpinan presiden Soeharto. Prof. Mochtar malah menerjemahkan social engineering sebagai rekayasa sosial. Tetapi ternyata, di dalam buku dalam halaman rujukan itu, Roscoe Pound sama sekali tidk pernah menggunakan istilah “Social Engineering” dan di dalam indeks buku legendarisnya yang lima volume tebal itu, sama sekali tidak ditemukan satupun tema “Social Engineering”.

Yang benar adalah Roscoe Pound memang mengemukakan delapan butir program yang oleh Rpscoe Pound dinamakan “The Program of The Sociological School”, dan sama sekali buka “social engineering”. Ringkasan dari delapan program tersebut adalah:

1. Studi tentang pengaruh sosial yang nyata dari institusi-institusi hukum, dari ajaran-ajaran hukum, dan dari asas-asas hukum.

2. Melakukan studi sosiologis dalam mempersiapkan pembuatan hukum

3. Melakukan studi tentang bagaimana membuat ajaran-ajaran hukum menjadi efektif di dalam tindakan

4. Studi dengan menggunakan metode “Juridical” (hal-hal yang bersifat hukum), studi Psokologis (hal-hal yang bertalian dengan ilmu jiwa) tentang proses peradilan, administrative, legislative dan proses hukum, dan juga studi filsufis tentang ide-ide.

5. Bagi seorang penganut mazhab sejarah hukum yang sosiologis, maka suatu studi hukum, tidak hanya studi tentang bagaimana ajaran-ajaran hokum itu terbentuk dan berkembang, dan ajaran-ajaran hukum itu tidak hanya sekedar dipandang sebagai matei hukum belaka, melainkan studi hukum juga mempelajari pengaruh-pengaruh sosial apa yang ditimbulkan oleh doktrin-doktrin itu dim as lalu terhadap hukum, dan bagaimana cara menimbulkan pengaruh itu.

6. Memperkenalkan pentingnya melakukan aplikasi secara individual dari ajaran-ajaran hokum sampai dari penyelesaian kasus-kasus individual secara asil dan sesuai nalar.

7. Di Negara-negara Common Law, seorang Menteri Kehakiman, yang di Amerika Serikat apa yang kita namakan Departemen kehakiman, adalah berfungsi sebagai penasehat hukum bagi pejabat-pejabat Negara, juga untuk mewakili Negara di dalam perkara perdata yang melibatkan Negara, serta untuk menjadi pembela dalam perkara pidana terutama dalam pengadilan tingkat bading.

8. Akhirnya semua tuntunan di atas, hanyalah sarana-sarana untuk bagaiamana megusahakan secara lebih efektif agar tujuan tertib hokum itu dapat tecapai.

Prof. Mochtar malah memberikan pemahaman bahwa penggunaan hukum sebagai “rekayasa sosial”, bersifat top down, yaitu semua pembuatan dan kebijakan hukum, harus berasal dari pemerintah, bukan bersifat botton up. Pandangan tersebut pada tahun 1970-an sempat memunculkan wacana bahwa Prof. Mochtas menggunakan istilah rekayasa sosial untuk melakukan justifikasi terhadap rezim orde baru. Dan perlawanan terhadap pendapat Prof Mochtar, menurut pakar yang mengkritisinya menganggap wajar jika penolakan mereka termarginalkan di era orde baru, karena pencanang yang dikritisi adalah seorang petinggi hukum di eranya. Di era reformasi, ilmuan hokum harus melakukan rekonstruksi terhadap pandangan-pandangan yang selama ini diangap mapan, dan tidak ada lagi pensakralan pendapat seorang pakar, sepanjang argumentasi untuk mengkritisinya memang beralasan.

Kamis, 19 Maret 2009

CIRI-CIRI ORANG YANG BERPIKIR POSITIF

Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani apabila kita selalu berpikir positif. Tetapi bagaimana melatih diri agar pikiran positiflah yangselalu ada dalam pikiran kira. Oleh karena itu sebaiknya kita kenali ciri-ciri orang berpikir positif agar kita bisa berpikir seperti mereka:

1. Melihat masalah sebagai tantangan

Orang yang melihat masalah sebagai cobaan yang terlalu berat akan membuat hidupnya paling sengsara di sunia. Jadi, belajarlah dari sebuah masalah, anggaplah masalah dalam hidup anda sebagai tantangan. Kalau anda mampu melewati tantangan tersebut, anda akan merasa bahagia dalam hidup anda.

2. Menikmati hidupnya

Pemikiran yang positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, tetapi tidak berarti tidak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.

3. Pikiran terbuk untk menerima saran dan ide

Orang yang selalu terbuka untuk menerima saran dan ide berarti akan selalu menerima hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

4. Mengabaikan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak

Memelihara pikiran positif diibaratkan membangunkan singa tidur. Artinya dengan memelihara pikiran negative akan menimbulkan masalah.

5. Mensyukuri apa yang dimilikinya

Janganlah berkeluh-kesah dengan apa yang dimiliki sebab ini justru akan menimbulkan masalah dalam hidup kita, tetapi bersyukurlah sambil berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik.

6. Tidak mendengarkan gossip yang tak menentu

Menfengarkan omongan yang tidak ada untungnya adalam prilaku yang dijauhi pemikir positif karena ini merupakan kawan pemikiran negative.

7. Tidak bikin alasa, tetapi langsung bikin tindakan

Pernah dengan pelesetan NATO (No Action, Talk Only), mereka ini jelas buka penganutnya.

8. Menggunakan bahsa positif

Meksudnya menggunakan kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme misalnya “masalah itu pasti akan terselesaikan”.

9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif

Diantaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias.

10. Peduli pada citra diri

Orang yang berpikir positif akan selalu berusha untuk tampil baik, bukan hanya di luar tetapi juga di dalam.

Rabu, 18 Maret 2009

CIRI-CIRI PEMIMPIN BERPRINSIP


Stephen R. Covey, penulis buku terkenal “Seven Habits of highly Effective people”, dalam bukunya yang lain “Principle Centered Leadership”, menggambarkan cirri-ciri pemimpin yang berprinsip. Berikut cirri-ciri pemimpin berprinsip yang diambil dari buku tersebut:

1. Terus belajar

Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk menambah lingkaran pengetahuan mereka. Pada saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidak tahuan mereka juga membesar. Mereka belajar dari pengalaman. Mereka segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin selalu tahu, meningkatkan keterampilan dan minat baru.

2. Berorientasi pada pelayanan

Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karier. Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan melayani orang lain. Pemimin yang tidak mau memikul beban orang lain akan menemui kegagalan. Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau menerima tanggung jawab moral, pelayanan, dan sumbangsih.

3. Memancarkan energi positif

Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energy positif yang akan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Dengan energy itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energy destruktif menjadi positif.

4. Mempercayai orang lain

Pemimpin yang berprisnsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tidak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naïf.

5. Hidup seimbang

Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimin. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Mereka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakan. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja, tidak fanatic, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian mereka jujur pada diri sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.

6. Melihat hidup sebagai petualangan

Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka dating dari dalam diri, buka dari luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisyatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak muda dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hamper semua hal. Mereka benar-benar menjalani hidup yang berkelimpahan.

7. Sinergistik

Pemimpin yang berprinsip itu senergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diusahakan menjadi lebih baik. Karena itu mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kereatif. Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya member dan mnenerima sedikit.

8. Berlatih untuk memperbaharui diri

Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbaharui dirisecara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula.

Selasa, 17 Maret 2009

KECERDASAN EMOSIONAL (EMOSIONAL QUESTION)

1. Pengertian emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)

Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :

a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa

c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada,

tidak tenang, ngeri

d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga

e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa

dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih

f. Terkejut : terkesiap, terkejut

g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka

h. Malu : malu hati, kesal

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).

Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

2. Pengertian kecerdasan emosional

Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “Himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8).

Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.

Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10).

Sebuah model pelopor lain yentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan tekanan lingkungan (Goleman, 2000 :180).

Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind (Goleman, 2000 : 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional.

Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.” (Goleman, 2002 : 52).

Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”. (Goleman, 2002 : 53).

Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salovey (Goleman, 200:57) memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

3. Faktor Kecerdasan Emosional

Goleman mengutip Salovey (2002:58-59) menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :

a. Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

b. Mengelola Emosi

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

c. Memotivasi Diri Sendiri

Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

d. Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman (2002 :57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka (Goleman, 2002 : 136). Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi (Goleman, 2002 : 172). Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain.

e. Membina Hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.

Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002 :59). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengambil komponen-komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan emosional

Referensi:

Goleman, Daniel. (2000). Emitional Intelligence (terjemahan). Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel. (2000). Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Senin, 16 Maret 2009

TIGA JENIS KECERDASAN (IQ, EQ, DAN SQ)

Sejak awal abad ke-21 kecerdasan manusia diidentikkan dengan IQ (inteligence Quotient). Saat itu para psikolog merancang satu tes yang bisa mengukur skor IQ seseorang, dan tes ini dipakai untuk memilih orang-orang yang paling cerdas dan paling cemerlang. Tes itu awalnya dipakai oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk memilih calon tentara, tetapi kemudian biasa dipakai oleh universitas-universitas dan para pengusaha untuk memilih kandidat-kandidat yang potnsial. Pada abad ke-21 mengikuti tes IQ pada tahap-tahap tertentu selama proses pendidikan dan proses mencari kerja menjadi praktik yang universal.

Pada 1960-an, tes dan skor IQ menjadi sangat kontroversional. Hal ini pertama-tama karena pada waktu itu, disadari bahwa tes IQ hanya mengukur satu jenis kecerdasan tertentu, kecerdasan rasional, logis dan linear, jenis kecerdasan yang dipakai untuk jenis-jenis problem logika tertentu dan untuk melakukan jenis-jenis pemikiran strateis tertentu. Inilah jenis-jenis kecerdasan yang dikembangkan oleh sistem sekolah Barat, dan telah mendominasi dunia bisnis Barat. Kedua, kesadaran multikultural pada tahun 1960-an menyebabkan para psikolog mencermati bahwa kelompok-kelompok etnis dan gnder yang berbeda memperoleh skor tes IQ yang berbeda dan tidak menentu. Fakta ini memaksa mereka berkesimpulan bahwa ada salah dalam tes itu, atau bahwa dengan orang-orang dengan etnisitas, ras, gender yang berbeda pula level kecedasan yang berbeda pula. Kedua kesimpulan ini sangat kontrovrsional, tetapi waktu itu tes IQ merupakan satu-satunya defenisi atau ukuran kecerdasan yang tersedia.

Pada pertengahan tahun 1990-an buku Daniel Goleman tentang “Kecerdasan Emosional (EQ)” mengubah seluruh paradigma kecerdasan. Teulisan Goleman itu didasarkan pada riset diuniversitas-universitas terkemuka di Amerika oleh para neurosainstik yang mencatat bahwa emosi manusia merupakan faktor penting dalam kecerdasan manusia. Jika emosi kita sehat dan matang, dan tidak ada kerusakan pada bagian otak yang terkait, kita dapat menggunakan seberapa besarpun IQ yang kita punya secara lebih efektif. Nemun jika emosi kita rusak atau tidak matang, atau ada kerusakan pada pusat emosional di dalam otak, kita tidak bisa menggunakan seberapapun tinggi IQ yang kita miliki dengan baik dan tepat.

Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang terkait dengan yang kita temui. Kita berhubungan dan memahami orang lain dan situasi kemampuan. EQ juga bergubungan dengan kemampuan kita untuk memahami dan mengelola emosi kita sendiri berupa ketakutan, kemarahan, agresi dan kejengkelan. Seperti kata Golemen, “jika kita tidak bisa mengelola mengontrol emosi semacam itu, emosi-emosi itulah yang bakal mengontrol kita”. Golemen kemudian mendefenisikan EQ sebagai kesanggupan untuk memperhitungkan atau menyadari situasi tempat kita berada, untuk membaca emosi orang lain, dn untuk bertindak dengan tepat.

Karya Golemen itu merevolusi pemahaman kita mengenai kecedasan dan segera dipandang memiliki implikasi praktis dalam kehidupan umum dan di tempat kerja. Tidak seperti IQ yang relatif stabil sepanjang hidup seseorang, EQ bisa dipelihara dan dikembangkan. Kita bisa belajar untuk berprilaku terhadap orang lain secara lebih cerdas atau atau untuk mengenal dan berhubungan dengan emosi-emosi kita sendiri.EQ juga memperluas gagasan kita tentang pemikiran strategis, sebab jelas bahwa disamping menjalankan strategi rasional, orang juga menjalankan strategi emosional, atau setidaknya bahwa sering terdapat suatu kontribusi emosional pada strategi-strategi yang kita susun. Namun EQ bukanlah kata akhir dalam riset tentang kecerdasa.

Menjelang akhir 1990-an, riset neurologis menunjukkan bahwa otak memiliki “SQ” atau jenis kecerdasan yang ketiga. Inilah kecerdasan yang kita gunakan untuk mengakses makna yang dalam, nilai-nilai fundamental, dan kesadaran akan adanya tujuan yang abadi dalam hidup kita dan peran yang dimainkan oleh makna, nilai,dan tujua, ini dalam hidup, strategi, dan proses berfikit kita. Inilah kecerdasan yang ditunjukkan oleh Mats Lederhausen lewat keinginannya untk melayni tujuan-tujuan yang mendalam. SQ mengajak kita untuk megajukan pertanyaan-pertanyaan besar: mengapa saya dilahirkan?, Apa makna hidup saya?, mengapa saya mencurahkan hidup saya pada hubungan ini atau pekerjaan ini atau persoalan ini? Apa yang sungguh-sungguh ingin saya capai dengan proyek iniatau dengan hidup saya?. SQ membuat kita bisa melihat konteks yang lebih luas dari peristiwa-peristiwa dan melihat skema besar. SQ memberi hidup kita sebuah naungan berupa makna dan nilai.

Spiritual berasal dari bahasa Latin “Spiritus” yang berarti prinsip yang memvitalisasi suatu organisme. S dalam SQ bisa juga berasal dari bahasa Latin “Sapientia” (shophia dalam bahasa Yunai) yang berarti “Kearifan”, kecerdasan kearifan (wisdom intellegence). SQ merengkuh segala sesuatu yang secara tradisional kita maksudkan sebagai kearifan. Berlawanan denga perolehan pengetahuan belaka atau dengan bakat yang relatifmekanistik dalam memecahkan masalah.

Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa. SQ adalah kecerdasan yang membuat kita menjadi utuh, yang membuat kita bisa mengintegrasikan berbagai fragmen kehidupan, aktifitas dan keberadaan kita. SQ memungkinkan kita dapat mengetahui apa sesungguhnya diri kita dan organisasi kita. SQ membuat kita bersentuhan dengan sisi dalam keberadaan kita dan dengan mata air potensialitas kita. SQ memungkinkan lahirnya wawasan dan pemahaman untuk beralih dari sisi dalam itu ke permukaan keberadaan kita, tempat kita bertindak, berpikir, dan merasa.

SQ juga menolong kita untuk berkembang. Lebih dari sekedar melestarikan apa yang kita ketahui atau yang telah ada, SQ membawa kita pada apa yang tidak kita ketahui dan pada apa yang mungkin. SQ membuat kita menghasratkan motivasi-motivasi yang lebih tinggi dan membuat kita bertindak dengan motivasi-motivasi ini. Dalam evolusi manusia, pencarian akan maknalah yang menggerakkan otak kita untuk mengembangkan bahasa. Dalam ecolusi masyarakat, pencarian kita akan makna dan nilai-nilai mendalamlah yang menybabkan kita menyeleksi para pemimpin terbaik bagi kelompok kita. Pencarian SQ kita akan makna, tujua, dan nilai-nilai yang lebih agung membuat kita tidak puas dengan apa yang telah tersedia, mengilhami kita untuk mencipta lebih banyak lagi. SQ juga mendorong kita untuk tumbuh dan berkembang sebagai sebuah budaya.

SQ menyediakan bagi kita satu jenis wawasan dan pemahaman nirbatas mengenai keseluruhan sebuah situasi, sebuah masalah, atau mengenai keseluruhan eksistensi itu sendiri. SQ membuat kita mengetahui atau menemukan kedalaman atau arti penting dari egala sesuatu.

Refensi:

Buku: Spiritual Capital (memberdayakan SQ di Dunia Bisnis) Hal 175-184

Oleh Danah Zohar dan Ian Marshall

Diterbitkan Oleh PT Penerbit Mizan Anggot Ikapi

Minggu, 15 Maret 2009

MOTIVASI BELAJAR

MOTIVASI BELAJAR

1. Arti Dan Pentingnya Motivasi Belajar

Motif diartikan sebagai daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam diri subjek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat tertentu, tertutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan dapat dirasakan/mendesak. (sardiman, 2004).

Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan prilaku manusia termasuk prilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya, harapan, tujuan, sasaran, dan insentif. Keadaan inilah yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan prilaku individu belahar (Dimyati dan Mudjiono, 1994).

Untuk mewujudkan terjadinya belajar, motivasi mempunyai kedudukan yang sangat penting artinya bagi pembelajar. Pada sisi pembelajar, pentingnya motivasi, yaitu:

a. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir

b. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar

c. Mengarahkan kegiatan belajar

d. Membesarkan semangat belajar, dan

e. Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar.

2. Jenis dan sifat motivasi

Sebagai kekuatan mental, motivasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Motivasi primer

Motivasi primer adalah motivasi didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani seseorang. Jenis motivasi ini termasuk memelihara kesehatan; makan, minum, istirahat, mempertahankan diri, keamanan, membangun, dan kawin.

b. Motivasi sekunder

Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Jenis motivasi ini dapat berupa; kebutuhan organisme seperti ingintahu, memperoleh kecakapan, berprestasi, dan motif-motif sosial seperti kasih sayang, kekuasan, dan kebebasan.

Motivasi dilihat dari segi sifatnya, dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang. Motivasi intrinsik erupakan dorongan agar pembelajar melakukan kegiatan belajar dengan maksud mencapai tujuan yang terkandung dalam perbuatan itu sendiri. Motivasi ini terjadi pada saat pembelajar menyadari pentingnya belajar dan ia belajar sendiri tanpa disuruh orang lain.

b. Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang. Motivasi ini adalah dorongan terhadap prilaku seseorang yang ada di luar pebuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuati karena dorongan dari luar, mislnya guru memberikan hadiah, pujian, hukuman, memberikan angka tinggi terhadap prestasi yang dicapainya, tidak menyalahkan pekerjaan atau jawaban pembelajar secara terbuka sekalipun pekerjaan atau jawaban tersebut belum memuaskan, menciptakan suasana belajar yang memberi kepuasan dan kesenangan pada pembelajar, dan sebagainya.

Motivasi pada diri pembelajar perlu dihidupkan terus-menerus untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal dan dijadikan dampak pengiring, yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi kemandirian tersebut terwujud dalam cita-cit atau aspirasi pembelajar, kemampuan pembelajar, kondisi pembelajar, kemampuan dalam mengatasi ligkungan negatif, dinamika pembelajar dalam belajar.

3. Prinsip-prinsip motivasi

Motivsi memiliki beberapa prinsip dasar dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:

a. Pujian lebih efektif dari pada hukuman.

b. Pemahaman yang jelas terhadap tujuan akan merangsang motivasi

c. Semua pembelajar mempunyai kebutuhan psikologis tetentu yang harus mendapat kepuasan

d. Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif dari pada motivasi yang dipaksakan dari luar

e. Motivasi yang besar erat hubungannya dengan kreativitas pembelajar.

4. Fungsi motivasi

Pada dasarnya motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Sardiman (2004) mengemukakan bahwa fungsi motivasi:

a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebgai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bemanfaat tersebut.

Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi mempunyai beberapa nilai atau makna. Nilai-nilai motivasi dalam pembelajaran, yaitu:

a. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya perbuatan belajar pembelajar.

b. Pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat, yang ada pada pembelajar.

c. Pembelajaran yang bermotivasi menurut kreativitas dan imajinasi guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara yang relevan dan sesuai guna mengaktifkan dan memelihara motivasi belajar pembelajar.

d. Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan menggunakan motivasi dalam pembelajaran erat kaitannya dengan disiplin kelas.

e. Azas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral dari pada azas mengjar.

5. Bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah

Dalam pelaksanaan pembelajaran, terdapat beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi belajar, yaitu:

a. Memberi angka

Memberi angka dalam pembelajaran mempunyai arti penting bagi pembelajar. Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajar pembelajar.

b. Hadiah

Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian, karena hadiah untuk suatu pekerjaan mungkin tidak akan bagi senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan tersebut.

c. Saingan/kompetisi

Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar pembelajar. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar pembelajar.

d. Ego-involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada pembelajar agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah salah satu bentuk motivasi yang cukuppenting.

e. Memberi ulangan

Pembelajar akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.

f. Mengetahi hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalai terjadi kemajuan akan mendorong pembelajar untuk lebih giat belajar.

g. Pujian

Apabila ada pembelajar yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinfocement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.

h. Hukuman

Hukuman sebagai reinfocement negatif ttapi kalau diberikan secara tepat dan bijak,bisa menjadi alat motivasi.

i. Hasrat untuk belajar

Hasrta untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik jika dibandingkan segala sesuatu kegiatan tanpa maksud.

j. Minat

Motivasi erat hubungannya dengan unsur minat.motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok.

k. Tujun yang dipakai

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh pembelajar, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, maka timbul gairah untuk terus belajar.

Refenrence

Judul buku: belajar dan pembelajaran

Penulis : Abdul Haling

Badan penerbit UNM, 2007

Senin, 09 Maret 2009

MOTIVASI

MOTIVASI

Kata motivasi berasal dari akar kata "motive" atau "motiwum" yang berarti `a moving cause` yang berhubungan dengan `inner drive, impulse, intension`. Kata "motive" atau "motif" ini bila berkembang menjadi motivasi, artinya menjadi `sedang digerakkan atau telah digerakkan oleh sesuatu, dan apa yang menggerakkan itu terwujud dalam tindakan`.

Menyoroti istilah motivasi dari sumber yang memberikan dorongan, maka dapat ditemukan bahwa sumber dorongan itu bisa datang dari dalam atau dari sesuatu yang menggerakkan keinginan dari luar. Sumber penggerak motivasi yang berasal dari dalam cenderung beranjak dari kebiasaan individu (yang telah berkembang secara kompleks), sedangkan motivasi yang sumber penggeraknya datang dari luar selalu disertai oleh persetujuan, kemauan, dan kehendak individu.

Dilihat dari segi etika, motif didefinisikan sebagai pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang menjadi penyebab seseorang melakukan suatu tindakan. Motivasi di sini berarti dorongan yang menggerakkan serta mengarahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan apa yang dikehendakinya, tertuju kepada tujuan yang diinginkannya.

Dengan demikian, motivasi ialah kekuatan yang mendorong untuk bertindak atau dorongan oleh kekuatan dari dalam ataupun dari luar (yang dilakukan dengan mendorong atau menarik). Motivasi jelas datang dari pelbagai macam sumber. Motivasi dapat digerakkan oleh kebutuhan (yang kompleks) seseorang, ataupun dorongan dari seorang
motivator yang memberi pengaruh motivasi kepada orang lain.

Sumber Motivasi Bagi Keterlibatan Dalam Tugas

Seorang pemimpin dapat melibatkan orang-orang yang dipimpinnya dengan menciptakan kondisi yang mendorong motivasi para karyawan.

1. Motivasi dapat dikembangkan dengan menemukan kebutuhan (bawahan) yang bersifat fisik, keamanan, mental, psikologi, sosial, dan ekonomi dalam lingkungan kerja dan menciptakan kondisi bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. Faktor kebutuhan dapat menjadi motivasi yang mampu mendorong para bawahan untuk bekerja.

2. Motivasi dapat dikembangkan dengan menciptakan suatu keinginan untuk bekerja keras/giat, berprestasi dan sukses. Keinginan untuk bekerja keras, berprestasi, dan sukses dapat didorong dengan memberikan tantangan sugestif yang memberi motivasi untuk bertindak.

Dasar Pengembangan Motivasi

Seorang pemimpin yang bijak dapat mengembangkan motivasi para
karyawannya dengan dasar-dasar berikut ini.

1. Perlu ada sasaran (target) pencapaian kerja yang jelas bagi setiap individu dalam setiap unit kerja.

2. Doronglah setiap orang untuk mencintai tugas dan dorong pula mereka untuk mengembangkan keinginan kuat untuk mencapai sasaran (target) kerja (sukses).

3. Jelaskanlah secara rinci dan terang manfaat pencapaian sasaran (target) kerja untuk pribadi, kelompok dan organisasi, serta imbalan yang akan diperoleh setiap individu yang bekerja dengan baik.

4. Doronglah/kembangkanlah sikap kebanggaan akan pekerjaan dan setiap hasil (kesuksesan) yang dicapai dalam pelaksanaan kerja. Ajarlah setiap bawahan untuk belajar bersyukur atas hasil kerja yang mereka capai.

5. Ciptakanlah kondisi, peluang, dan keinginan untuk menyenangi serta menikmati lingkungan kerja bagi setiap individu.

6. Ciptakan dan gerakkanlah keinginan kuat dari setiap individu untuk berorientasi kepada prestasi serta keberhasilan kerja.

Motivasi dalam kepemimpinan dimaksudkan untuk memberikan dorongan bagi setiap karyawan guna terlibat dalam kerja secara maksimal. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun, mendorong, serta mendukung semangat dan moral dengan gaya positif (untuk menghindari manipulasi). Pemimpin perlu memberikan dorongan agar orang-orang yang dipimpinnya belajar menghargai pekerjaan dan bersyukur untuk setiap hasil kerja yang dicapainya. Mereka harus disadarkan, bahwa berprestasi dalam pekerjaan justru menaikkan harga diri mereka. Mereka juga perlu diberi dorongan untuk bekerja aktif yang dilakukan dengan sukacita, sehingga membawa manfaat positif serta nilai lebih bagi diri, pemimpin, organisasi, serta lingkungan kerja.

Lima Kisi Motivasi

Pada dasarnya, motivasi dilakukan dengan mengadakan sentuhan-sentuhan manusiawi yang menyentuh personalitas setiap individu. Motivasi dapat dilakukan dengan cara berikut.

1. Motivasi melalui sentuhan tubuh

Manusia adalah makhluk yang "complex unity", yang meliputi roh, jiwa, dan tubuh. Tubuh sebagai bagian yang riil dari manusia, berhubungan dengan roh serta jiwanya secara integral. Roh serta jiwa manusia dapat dipuaskan dengan jalan sentuhan tubuh. Sentuhan tubuh dapat dilakukan dengan tersenyum, berjabat tangan, menepuk bahu, dsb., yang dilakukan dengan penuh kesopanan serta penghargaan kepada pegawai yang harus dilihat sebagai subyek.

Kebutuhan fisik berhubungan erat dengan kebutuhan roh serta jiwa. Hubungan erat ini menyebabkan adanya hubungan pemenuhan kebutuhan yang utuh. Apabila tubuh diberi sentuhan sebagai tanda hormat, pujian, dan dukungan, maka akan ada respons kepuasan roh serta jiwa. Sentuhan-sentuhan ini dengan sendirinya akan memberi dorongan kuat (motivasi) untuk "menjadi lebih baik", sehingga tergerak untuk lebih aktif dan maju.

2. Motivasi melalui sentuhan rohani

Motivasi melalui sentuhan rohani ialah motivasi yang menyentuh kisi moral. Motivasi ini berkaitan dengan pengembangan "integritas serta komitmen". Di sini para pegawai ditolong untuk memberikan tempat kepada faktor rohani, agar mereka memiliki prioritas tinggi dalam motivasi. Kepuasan rohani akan membawa kestabilan moral terhadap integritas terhadap diri, integritas rohani, integritas sosial, integritas ekonomi, dan integritas kerja yang tetap serta ditandai oleh komitmen yang pasti. Sentuhan rohani dapat dilakukan dengan memberikan nasihat/ajaran
moral/hikmat, dsb., yang memberi dorongan untuk mempertebal rasa/keinginan moral untuk menjadi lebih baik, lebih setia, lebih jujur, lebih aktif/giat, lebih bertanggung jawab, dsb., dalam melakukan tugas.

3. Motivasi melalui sentuhan psikologi

Pemimpin dapat membuat gerakan motivasi dengan sentuhan psikologis kepada orang-orang yang dipimpinnya. Sentuhan psikologis dapat berupa pujian (praising} atau teguran (reprimend), sesuai dengan kondisi langsung yang ditemukan
pemimpin pada setiap pegawainya. Motivasi psikologis yang diberikan dengan tulus akan memberi dorongan yang kuat bagi para karyawan untuk bergerak maju, memperbaiki diri dan bekerja dengan lebih baik (bekerja semakin efektif, efisien, dalam hubungan manusia/organisasi yang sehat).

4. Motivasi sukses

Motivasi sukses berhubungan dengan prestasi sosial atau imbalan ekonomi, dsb. Motivasi sukses dapat diwujudkan dalam bentuk kenaikan pangkat/promosi sebagai tanda prestasi, dan imbalan lebih yang dapat menjawab kebutuhan ekonomi serta penghargaan sosial lain. Apabila dilakukan dengan bijak, motivasi sukses ini akan memberi dorongan yang kuat untuk bekerja dengan lebih giat/bersemangat, yang akan membawa hasil lebih dalam bekerja.

5. Motivasi diri

Motivasi diri atau "self motivation" adalah upaya membangunkan semangat diri dengan sugesti diri secara positif. Sugesti diri secara positif dapat dikembangkan dengan cara terus-menerus mengembangkan sikap positif, pilihan-pilihan positif, dan keputusan positif yang membangun diri dan orang lain. Motivasi diri bertujuan menjaga kestabilan sikap serta tekad untuk terus maju dan berprestasi. Motivasi diri seperti ini akan meredam gejolak-gejolak negatif dalam diri serta memberi kekuatan ganda menghadapi krisis hidup. Motivasi diri memberi tanda kematangan
dan membangun tekad untuk bertahan serta maju/sukses.

Memastikan Motivasi Dalam Kewenangan Kepemimpinan

Setiap pemimpin dengan kewenangan kepemimpinan yang ada padanya dapat memastikan bahwa ia dapat memberi motivasi bagi para karyawannya, yaitu dengan memberikan sentuhan serta dorongan yang pasti terhadap setiap karyawannya. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan berikut ini.

1. Buatlah sasaran (target) kerja yang dapat dicapai oleh setiap individu/kelompok dengan menolong/mengarahkan mereka untuk mewujudkan usaha kerja yang memadai dan lebih baik daripada yang telah dilakukan.

2. Organisasikanlah pekerjaan dan tempatkanlah setiap individu pada tugas yang tepat (dan bimbinglah mereka dalam doa). Berikan keyakinan, bahwa upaya kerja dari setiap individu akan berhasil dengan baik.

3. Tambahkanlah beban kerja pada setiap individu yang disesuaikan dengan tambahan kemampuan kerja yang dibutuhkan dalam proses kerja di setiap tugas.

4. Pastikanlah bahwa setiap orang bekerja dalam batas maksimum kekuatan yang ada padanya, bukan melebihi batas kekuatan yang wajar.

5. Libatkanlah semua orang dalam pekerjaan secara emosi, mental, rohani, dan fisik dengan memberikan dorongan dalam bidang berikut.

a. Tetapkan tujuan bersama yang disepakati, dipahami, dan diketahui dengan jelas oleh setiap individu.

b. Libatkanlah setiap orang dalam upaya pencapaian tujuan dengan mencari metodologi pelaksanaan kerja yang relevan untuk dipakai.

c. Delegasikan tugas kepada setiap individu dengan penuh dan jelas.

d. Libatkanlah setiap anggota dalam membuat keputusan, sehingga mereka merasa memiliki keputusan tersebut.

e. Bagilah kemenangan atau kekalahan yang dialami kepada setiap/semua anggota kelompok untuk dinikmati/ditanggung bersama.

f. Kembangkanlah sistem motivasi jangka pendek untuk diterapkan setiap saat.

g. Tunjukkanlah kepada setiap pegawai, bahwa Anda memahami dan memerhatikan kebutuhan mereka.

h. Kembangkanlah motivasi jangka panjang, dengan menunjukan bahwa akan ada kemenangan akhir yang akan dinikmati bersama.

Tindakan Pemastian Bagi Keberhasilan Motivasi

Pemimpin yang tegas dan tekun akan memberi motivasi kepada para karyawannya, agar dapat mengambil langkah pemastian keberhasilan motivasi, seperti di bawah ini.

1. Pilihlah dan tetapkanlah untuk menang secara bersama yang dilakukan dengan sikap mental positif yang membangun.

2. Masuklah dengan pasti dalam perang melalui doa dengan keyakinan, bahwa akan ada kemenangan yang akan dicapai bersama.

3. Bersiaplah untuk membayar harga kemenangan dengan bekerja baik (efektif, efisien dalam hubungan organisasi yang sehat) dan bekerja keras secara konsisten.

4. Usahakanlah untuk terus menginterpretasi hidup dan proses kerja dari kaca mata kemenangan, karena kegagalan pun dapat diterima sebagai kemenangan yang tertunda.

Dengan mengingat kepentingan motivasi seperti telah disinggung di atas, setiap pemimpin yang ingin maju dan berhasil harus belajar serta bersungguh-sungguh menerapkannya dalam kepemimpinan, yang pada akhirnya akan menjamin keberhasilan dirinya sebagai pemimpin.

Sumber diedit dari:

Judul buku : Kepemimpinan yang Dinamis

Judul bab : Aspek-Aspek Kepemimpinan

Penulis : Pdt. Dr. Yakob Tomatala

Penerbit : Gandum Mas, Malang 1997

Halaman : 213 -- 222