Senin, 16 Maret 2009

TIGA JENIS KECERDASAN (IQ, EQ, DAN SQ)

Sejak awal abad ke-21 kecerdasan manusia diidentikkan dengan IQ (inteligence Quotient). Saat itu para psikolog merancang satu tes yang bisa mengukur skor IQ seseorang, dan tes ini dipakai untuk memilih orang-orang yang paling cerdas dan paling cemerlang. Tes itu awalnya dipakai oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk memilih calon tentara, tetapi kemudian biasa dipakai oleh universitas-universitas dan para pengusaha untuk memilih kandidat-kandidat yang potnsial. Pada abad ke-21 mengikuti tes IQ pada tahap-tahap tertentu selama proses pendidikan dan proses mencari kerja menjadi praktik yang universal.

Pada 1960-an, tes dan skor IQ menjadi sangat kontroversional. Hal ini pertama-tama karena pada waktu itu, disadari bahwa tes IQ hanya mengukur satu jenis kecerdasan tertentu, kecerdasan rasional, logis dan linear, jenis kecerdasan yang dipakai untuk jenis-jenis problem logika tertentu dan untuk melakukan jenis-jenis pemikiran strateis tertentu. Inilah jenis-jenis kecerdasan yang dikembangkan oleh sistem sekolah Barat, dan telah mendominasi dunia bisnis Barat. Kedua, kesadaran multikultural pada tahun 1960-an menyebabkan para psikolog mencermati bahwa kelompok-kelompok etnis dan gnder yang berbeda memperoleh skor tes IQ yang berbeda dan tidak menentu. Fakta ini memaksa mereka berkesimpulan bahwa ada salah dalam tes itu, atau bahwa dengan orang-orang dengan etnisitas, ras, gender yang berbeda pula level kecedasan yang berbeda pula. Kedua kesimpulan ini sangat kontrovrsional, tetapi waktu itu tes IQ merupakan satu-satunya defenisi atau ukuran kecerdasan yang tersedia.

Pada pertengahan tahun 1990-an buku Daniel Goleman tentang “Kecerdasan Emosional (EQ)” mengubah seluruh paradigma kecerdasan. Teulisan Goleman itu didasarkan pada riset diuniversitas-universitas terkemuka di Amerika oleh para neurosainstik yang mencatat bahwa emosi manusia merupakan faktor penting dalam kecerdasan manusia. Jika emosi kita sehat dan matang, dan tidak ada kerusakan pada bagian otak yang terkait, kita dapat menggunakan seberapa besarpun IQ yang kita punya secara lebih efektif. Nemun jika emosi kita rusak atau tidak matang, atau ada kerusakan pada pusat emosional di dalam otak, kita tidak bisa menggunakan seberapapun tinggi IQ yang kita miliki dengan baik dan tepat.

Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang terkait dengan yang kita temui. Kita berhubungan dan memahami orang lain dan situasi kemampuan. EQ juga bergubungan dengan kemampuan kita untuk memahami dan mengelola emosi kita sendiri berupa ketakutan, kemarahan, agresi dan kejengkelan. Seperti kata Golemen, “jika kita tidak bisa mengelola mengontrol emosi semacam itu, emosi-emosi itulah yang bakal mengontrol kita”. Golemen kemudian mendefenisikan EQ sebagai kesanggupan untuk memperhitungkan atau menyadari situasi tempat kita berada, untuk membaca emosi orang lain, dn untuk bertindak dengan tepat.

Karya Golemen itu merevolusi pemahaman kita mengenai kecedasan dan segera dipandang memiliki implikasi praktis dalam kehidupan umum dan di tempat kerja. Tidak seperti IQ yang relatif stabil sepanjang hidup seseorang, EQ bisa dipelihara dan dikembangkan. Kita bisa belajar untuk berprilaku terhadap orang lain secara lebih cerdas atau atau untuk mengenal dan berhubungan dengan emosi-emosi kita sendiri.EQ juga memperluas gagasan kita tentang pemikiran strategis, sebab jelas bahwa disamping menjalankan strategi rasional, orang juga menjalankan strategi emosional, atau setidaknya bahwa sering terdapat suatu kontribusi emosional pada strategi-strategi yang kita susun. Namun EQ bukanlah kata akhir dalam riset tentang kecerdasa.

Menjelang akhir 1990-an, riset neurologis menunjukkan bahwa otak memiliki “SQ” atau jenis kecerdasan yang ketiga. Inilah kecerdasan yang kita gunakan untuk mengakses makna yang dalam, nilai-nilai fundamental, dan kesadaran akan adanya tujuan yang abadi dalam hidup kita dan peran yang dimainkan oleh makna, nilai,dan tujua, ini dalam hidup, strategi, dan proses berfikit kita. Inilah kecerdasan yang ditunjukkan oleh Mats Lederhausen lewat keinginannya untk melayni tujuan-tujuan yang mendalam. SQ mengajak kita untuk megajukan pertanyaan-pertanyaan besar: mengapa saya dilahirkan?, Apa makna hidup saya?, mengapa saya mencurahkan hidup saya pada hubungan ini atau pekerjaan ini atau persoalan ini? Apa yang sungguh-sungguh ingin saya capai dengan proyek iniatau dengan hidup saya?. SQ membuat kita bisa melihat konteks yang lebih luas dari peristiwa-peristiwa dan melihat skema besar. SQ memberi hidup kita sebuah naungan berupa makna dan nilai.

Spiritual berasal dari bahasa Latin “Spiritus” yang berarti prinsip yang memvitalisasi suatu organisme. S dalam SQ bisa juga berasal dari bahasa Latin “Sapientia” (shophia dalam bahasa Yunai) yang berarti “Kearifan”, kecerdasan kearifan (wisdom intellegence). SQ merengkuh segala sesuatu yang secara tradisional kita maksudkan sebagai kearifan. Berlawanan denga perolehan pengetahuan belaka atau dengan bakat yang relatifmekanistik dalam memecahkan masalah.

Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa. SQ adalah kecerdasan yang membuat kita menjadi utuh, yang membuat kita bisa mengintegrasikan berbagai fragmen kehidupan, aktifitas dan keberadaan kita. SQ memungkinkan kita dapat mengetahui apa sesungguhnya diri kita dan organisasi kita. SQ membuat kita bersentuhan dengan sisi dalam keberadaan kita dan dengan mata air potensialitas kita. SQ memungkinkan lahirnya wawasan dan pemahaman untuk beralih dari sisi dalam itu ke permukaan keberadaan kita, tempat kita bertindak, berpikir, dan merasa.

SQ juga menolong kita untuk berkembang. Lebih dari sekedar melestarikan apa yang kita ketahui atau yang telah ada, SQ membawa kita pada apa yang tidak kita ketahui dan pada apa yang mungkin. SQ membuat kita menghasratkan motivasi-motivasi yang lebih tinggi dan membuat kita bertindak dengan motivasi-motivasi ini. Dalam evolusi manusia, pencarian akan maknalah yang menggerakkan otak kita untuk mengembangkan bahasa. Dalam ecolusi masyarakat, pencarian kita akan makna dan nilai-nilai mendalamlah yang menybabkan kita menyeleksi para pemimpin terbaik bagi kelompok kita. Pencarian SQ kita akan makna, tujua, dan nilai-nilai yang lebih agung membuat kita tidak puas dengan apa yang telah tersedia, mengilhami kita untuk mencipta lebih banyak lagi. SQ juga mendorong kita untuk tumbuh dan berkembang sebagai sebuah budaya.

SQ menyediakan bagi kita satu jenis wawasan dan pemahaman nirbatas mengenai keseluruhan sebuah situasi, sebuah masalah, atau mengenai keseluruhan eksistensi itu sendiri. SQ membuat kita mengetahui atau menemukan kedalaman atau arti penting dari egala sesuatu.

Refensi:

Buku: Spiritual Capital (memberdayakan SQ di Dunia Bisnis) Hal 175-184

Oleh Danah Zohar dan Ian Marshall

Diterbitkan Oleh PT Penerbit Mizan Anggot Ikapi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar